Culture shock saat pindah dari bangku kuliah ke dunia kerja dialami banyak orang, meski jarang dibicarakan terbuka. Transisi ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun-tahun akhir kuliah, ketika tuntutan akademik makin berat dan bayang-bayang dunia kerja mulai terasa dekat. Jadwal yang tadinya fleksibel perlahan digantikan tenggat yang lebih ketat.
Begitu masuk dunia kerja, perubahan makin terasa: jam kerja kaku, atasan menuntut hasil konsisten, dan tidak ada lagi masa reses untuk memulihkan diri. Penelitian terhadap sepuluh lulusan universitas pria di Afrika Selatan menunjukkan hal serupa dimana masa transisi kerap diwarnai ketidakpastian, mulai dari jam kerja panjang, kurangnya pengalaman relevan, hingga rasa percaya diri yang goyah karena tidak tahu harus mulai dari mana (Fayard & Mayer, 2023).
Riset dari University of California San Diego mencatat hampir separuh populasi mengalami masalah kesehatan mental dalam hidupnya, dan mahasiswa termasuk kelompok paling rentan karena harus menghadapi perubahan besar di ranah sosial, keluarga, dan akademik secara bersamaan (Dobkins et al., 2023). Masalahnya, tekanan ini jarang berhenti begitu seseorang lulus dan mulai bekerja. Ia hanya berpindah bentuk, dari tenggat tugas menjadi target kerja, dari dosen menjadi atasan, dengan tuntutan performa yang datang saat fondasi kestabilan emosional belum sepenuhnya terbentuk.
Ketika tekanan semacam ini dibiarkan menumpuk tanpa jeda, dampaknya tidak berhenti pada rasa lelah sesaat. UoPeople menyebutnya sebagai burnout: reaksi emosional, fisik, dan mental yang muncul akibat tekanan berkepanjangan, ditandai kelelahan, frustrasi, hilangnya motivasi, hingga menurunnya kemampuan untuk berfungsi normal (Writers of UoPeople, 2024). Ini berbeda dari lelah biasa setelah begadang mengerjakan tugas atau lembur semalaman, burnout adalah kondisi kronis yang terbentuk dari akumulasi tekanan selama berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun, dengan gejala fisik seperti sulit tidur meski sudah cukup istirahat, sering sakit kepala, hilang fokus, sampai kehilangan minat pada hal yang dulu disukai (Writers of UoPeople, 2024). Baik mahasiswa yang terus dikejar tenggat maupun pekerja baru yang merasa harus tampil kompeten sejak hari pertama, sama-sama berisiko mengalami pola ini jika tekanan yang mereka hadapi tidak segera dikelola.
Menetapkan Batasan agar Tidak Kehabisan Energi
Hilangnya batas antara waktu bekerja atau kuliah dengan kehidupan pribadi adalah salah satu penyebab utama kelelahan di masa transisi. Lima dari sepuluh partisipan dalam penelitian terhadap lulusan baru menyatakan pekerjaan menyita banyak waktu di luar jam kerja, bahkan memaksa mereka bekerja di akhir pekan, sementara sebagian lain menyebutkan bekerja dari rumah justru menghapus batas antara kantor dan kehidupan pribadi sehingga jam kerja terasa tidak pernah benar-benar berakhir (Fayard & Mayer, 2023). Tidak heran, beberapa partisipan secara eksplisit menyebutkan keinginan untuk memiliki batasan kerja yang lebih jelas (Fayard & Mayer, 2023).
Work-life balance sama pentingnya bagi mahasiswa maupun pekerja. Jadwal yang dibagi merata antara waktu belajar atau bekerja dengan waktu untuk aktivitas sosial, termasuk waktu khusus hanya untuk diri sendiri. Dengan pembagian waktu yang seimbang, setiap aspek kehidupan dapat tetap terpenuhi tanpa membuat satu aktivitas mengorbankan kebutuhan lainnya (Writers of UoPeople, 2024). Beberapa langkah yang bisa dicoba:
- Tentukan jam kerja atau belajar yang tetap, termasuk kapan mulai dan berhenti mengecek email.
- Sisihkan minimal satu hari penuh dalam seminggu untuk benar-benar libur, tanpa terus memikirkan pekerjaan atau tugas kuliah.
- Sisihkan waktu untuk aktivitas yang disukai di tengah minggu, bukan hanya menunggu akhir pekan.
- Sadari bahwa menolak permintaan di luar kapasitas bukan bentuk ketidakprofesionalan, melainkan cara menjaga performa jangka panjang.
Memecah Tugas Besar agar Tidak Memicu Panik
Cara mengelola prioritas juga menentukan seberapa besar tekanan yang dirasakan. Delapan dari sepuluh partisipan menyebutkan bahwa merencanakan hari kerja lewat to-do list atau kalender menjadi cara utama mereka mengelola pekerjaan, sehingga tugas yang tadinya menumpuk jadi lebih terarah setelah dipecah jadi langkah kecil (Fayard & Mayer, 2023). Salah satu partisipan bahkan menyebutkan bahwa memprioritaskan tugas, meski terdengar klise, benar-benar terbukti berguna (Fayard & Mayer, 2023). Teknik seperti Matriks Eisenhower atau time-blocking bisa jadi kerangka praktis untuk menerapkan prinsip ini.

Menunda pekerjaan justru memperbesar tekanan. Saat stres, menunda tugas terasa menggoda, tapi kebiasaan ini memicu kurang tidur, frustrasi, dan tumpukan stres yang lebih besar di kemudian hari, sehingga manajemen waktu yang konsisten jadi kunci untuk tetap mengejar tenggat sekaligus membangun hubungan yang lebih sehat dengan pekerjaan.
Tidak Perlu Menghadapi Semuanya Sendirian
Bertahan di masa transisi bukan hanya soal manajemen waktu, tapi juga soal siapa yang ada di sekitar saat kesulitan datang. Enam dari sepuluh partisipan terbiasa meminta bantuan ketika tidak memahami cara menyelesaikan suatu tugas, dan dukungan dari mentor maupun rekan kerja senior tercatat sebagai bentuk bantuan organisasi yang paling banyak dirasakan (Fayard & Mayer, 2023). Hal serupa tercermin dalam kursus well-being di UC San Diego, di mana belajar bersama teman sekelas membantu menurunkan rasa malu terkait masalah kesehatan mental karena peserta menyadari hampir semua orang mengalami kesulitan yang sama ataupun berbeda dari waktu ke waktu (Dobkins et al., 2023).
Jika rasa kewalahan sudah mengarah pada tanda-tanda burnout, mencari bantuan profesional adalah langkah yang disarankan, bukan sesuatu yang perlu ditunda. Berbicara dengan konselor, tercatat sebagai salah satu cara utama untuk pulih dari burnout, di samping mengandalkan dukungan teman, keluarga, atau mentor terdekat. Menyadari bahwa kesalahan adalah bagian wajar dari proses belajar sama pentingnya. Sejumlah partisipan menceritakan bagaimana mereka awalnya merasa tidak percaya diri karena kesenjangan pengetahuan dan keterampilan, namun perlahan mengatasinya lewat pengalaman dan waktu (Fayard & Mayer, 2023).
Stres di fase dewasa muda, baik dari kuliah menuju semester akhir maupun dari kampus menuju dunia kerja, adalah hal yang sangat normal. Beradaptasi dengan lingkungan baru bukan perlombaan lari cepat, melainkan lebih mirip maraton yang butuh kesabaran terhadap diri sendiri. Batasan yang sehat, prioritas kerja yang jelas, dan dukungan dari orang sekitar adalah tiga hal yang bisa membantu proses ini terasa lebih ringan.
Kalau belakangan ini sering merasa kewalahan, cemas, atau butuh ruang aman untuk didengar, Noema Care hadir sebagai layanan konseling yang bisa membantu memahami diri lebih dalam. Cocok untuk mahasiswa maupun pekerja baru yang sedang berada di tengah masa transisi ini.
